Senin, 17 Mei 2021

Pemeriksaan Glukosa Urine Metode Benedict

 *Prinsip : 

Gugus aldehid pada glukosa dalam urine akan mereduksi ion cupri menjadi ion cupri dalam keadaan panas.

*Cara Kerja :

1. 5 ml Reagen Benedict dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian ditambahkan 5-8 tetes urine.
2. Homogenkan.
3. Panaskan diatas api.
4. Baca hasil.

*Interpretasi Hasil :

(-) biru / hijau jernih.
(+) hijau kekuningan.
(++) kuning.
(+++) jingga.
(++++) merah bata


Minggu, 16 Mei 2021

Pemeriksaan Hemoglobin

Tujuan : 

untuk mengetahui kadar Hb ( hemoglobin ) dalam darah pasien.

Prinsip :

HB + HCL menjadi hematin HCL ( asam hematin ) yang berwarna coklat, kemudian dilakukan pengenceran dengan aquadest & dibandingkan dengan warna pada tabung standar.

Metode :

Sahli.

Landasan Teori :

Hemoglobin merupakan protein eritrosit, yang memiliki fungsi sbb :
1. Mengangkut O2 dari paru² ke jaringan diseluruh tubuh.
2. Mengangkut CO2 dari jaringan ke paru².
3. Pemberi warna merah pada darah.
4. Mempertahankan keseimbangan asam basa tubuh.

Alat & Bahan :

1. Alat : alat-alat phlebotomy; tabung reaksi; hemometer sahli yang terdiri dari batang pengaduk, pipet hb, pipet tetes, tabung hemometer.

2. Bahan : darah+edta; aquadest; HCL 0,1 N.

Nilai Normal :

Wanita = 12 - 16 gr/dl
Pria = 13 - 18 gr/dl

Cara Kerja :

1. Siapkan alat & bahan.
2. Tabung hemometer diisi dengan HCL 0,1 dengan menggunakan pipet sampai batas miniskus 2.
3. Masukkan 20 ul darah ke dalam tabung yang telah terisi HCL 0,1 N.
4. Homogenkan dan inkubasi selama 5 menit.
5. Tambahkan aquadest setetes demi setetes hingga warna sama dengan standar.
6. Baca hasil.


Sabtu, 24 April 2021

Pemeriksaan APTT

 APTT ( Activated Partial Tromboplastin Time )

Tujuan : 

Untuk menentukan aktivitas faktor pembekuan jalur intrinsik & jalur bersama.

Prinsip : 

Aktifator terhadap faktor kontak ( silika, kaolin ) & fosfolipid. Standar sebagai pengganti fosfolipid, trombosit dimasukkan dalam plasma sitrat kemudian ditambah ion ca²+, diukur lamanya waktu sampai terbentuk Fibrin.

Nilai Normal : 

25 - 40 detik.

Landasan Teori :

Tromboplastin parsial adalah fosfolipid yang berfungsi sebagai pengganti platelet, faktor lll dapat berasal dari manusia, tumbuhan & hewan.

Faktor Yang Dapat Mempengaruhi Hasil APTT :

1. Pembekuan sampel darah.
2. Sampel darah hemolisis / berbusa akibat dikocok.
3. Pengambilan darah pada intravena lines misal pada infus heparin.

Alat & Bahan :

1. Alat : waterbath, centrifuge, mikropipet, tip, tabung reaksi, pengail, stopwatch.

2. Bahan : 4,5 ml darah, 0,5 ml Na. Sitrat 3,8 %, Reagen APTT, CaCl2, plasma.

Cara Kerja : 

A. Membuat Plasma : 
1. 0,5 ml Na. Sitrat 3,8 % dimasukkan dalam tabung centrifuge.
2. 4,5 ml darah dimasukkan ke dalam tabung centrifuge yang telah terisi Na. Sitrat.
3. Centrifuge selama 20 menit kecepatan 200 rpm.
4. Pisahkan plasma & sel² darah.

B. Penetapan : 
1. Reagen APTT & CaCl 2 di inkubasi pada waterbath 37° C.
2. 100 mikron plasma ditambah 100 mikron Reagen APTT diambil, dimasukkan ke dalam tabung & di inkubasi pada waterbath 37° C selama 2 menit.
3. 100 mikron CaCl 2 diambil dimasukkan ke dalam tabung yang telah terisi plasma sitrat & Reagen APTT bersamaan dengan ditekannya stopwatch.
4. Waktu dicatat sampai terbentuk Fibrin.

Jumat, 23 April 2021

Pemeriksaan Protombin Time

 Metode : 

Quick one stage

Tujuan : 

Untuk mengetahui kelainan aktifitas faktor² pembekuan jalur ekstrinsik & jalur bersama ( F Vlll, FX , Protombin ).

Prinsip : 

Tromboplastin jaringan ( faktor ekstrinsik & ion kalsium ) ditambahkan dalam plasma sitrat, diukur lamanya waktu sampai terbentuk Fibrin.

Nilai Normal : 

11 - 14 detik.

Landasan Teori : 

   Protombin disintesis oleh hati & merupakan prekursor tidak aktif dalam proses pembekuan. Protombin dikonversi menjadi trombin oleh tromboplastin yang diperlukan untuk membentuk bekuan darah.
   Uji masa Protombin untuk menilai kemampuan faktor koagulasi jalur ekstrinsik & jalur bersama. Pada penyakit hati PT dapat memanjang karena sel hati tidak dapat mensintesis Protombin. PT memanjang karena defisiensi faktor koagulasi ekstrinsik & bersama jika kadarnya < 30 %.
   Bahan pemeriksaan untuk uji PT adalah plasma sitrat yang diperoleh dari sampel darah Vena dengan antikoagulan trisodium sitrat 3,2 % dengan perbandingan 9 : 1. Darah sitrat harus diperiksa sedikit dikitnya 2 jam setelah pengambilan.
   PT dapat diukur secara manual ( visual ), fotooptik / elektromekanik. Teknik manual memiliki bias individu yang sangat besar. Tetapi pada keadaan dimana kadar fibrinogen sangat rendah & tidak dapat dideteksi dengan alat otomatis, metode manual dapat digunakan. Metode otomatis dapat memeriksa dalam jumlah besar dengan cepat & teliti.

Masalah Klinis Apabila Hasil Memanjang :

1. Penyakit hati ( sirosis hati, hepatitis, abses hati, kanker hati, jaundice ).
2. Defisiensi faktor koagulasi ( ll, V, Vll, X ).
3. DC, Fibrinalisis.
4. Pengaruh obat, treatment vitamin K antibiotic hasil memendik.
5. Trombofiebitis.
6. Infark miokardial
7. Pengaruh obat, barbiturate, digitals diuretic.

Alat & Bahan : 

1. Alat : tabung reaksi, pengail, mikropipet, tip biru & kuning, waterbath, centrifuge, rak tabung.

2. Bahan : plasma sitrat, Reagen Protombin, 0,5 ml Na. Sitrat 3,8 %, 4,5 ml darah, aquadest.

Cara Kerja : 

A. Membuat Plasma : 
1. 0,5 ml Na. Sitrat 3,8 % dimasukkan ke dalam tabung centrifuge.
2. 4,5 ml darah dimasukkan ke dalam tabung centrifuge yang telah terisi Na. Sitrat 3,8 %.
3. Centrifuge selama 20 menit kecepatan 200 rpm.
4. Pisahkan plasma & sel² darah.

B. Penetapan : 
1. Reagen dikondisikan pada suhu 37° C dalam waterbath.
2. Plasma sitrat diambil 100 mikron, & di inkubasi dalam waterbath 37° C selama 2 menit.
3. 200 mikron Reagen Protombin diambil, dimasukkan ke dalam tabung yang berisi plasma sitrat bersamaan dengan ditekannya stopwatch.
4. Waktu dicatat sampai terbentuk Fibrin.






Pemeriksaan LED ( Laju Endap Darah )

 Tujuan : 

1. Untuk mengetahui kecepatan darah mengendap.
2. Untuk melihat perkembangan infeksi penyakit kronis.

Metode : 

Westergren

Prinsip : 

Darah ditambah antikoagulan disimpan pada standar maka akan mengendap. Semakin banyak sel eritrosit yang mengendap maka semakin tinggi LED nya.

Landasan Teori : 

LED / dalam bahasa Inggrisnya Eritrosit Sedimentation Rate ( ESR ) merupakan salah satu pemeriksaan rutin untuk darah. LED yakni menghitung pengendapan eritrosit dalam darah persatuan waktu 1 jam dengan memasukkan darah ke dalam tabung westergren disimpan dalam rak tabung westergren selama 1 jam & dibaca dengan menghitung jarak antara puncak miniscus plasma darah terhadap pengendapan eritrosit menggunakan reading device. LED tidak terlalu spesifik untuk diagnostik penyakit tetapi digunakan untuk skrining inflamasi.

Faktor yang Mempengaruhi Hasil LED : 

1. Ukuran / bentuk eritrosit
2. Tingkat plasma fibrinogen
3. Mekanik seperti getaran, suhu, kemiringan 
4. Teknik

Hasil dari uji pemeriksaan LED bervariasi tergantung umur, jenis kelamin, & ketinggian.

Fase - Fase dalam LED :

1. Fase pengendapan cepat pertama 15 menit, eritrosit mulai membentuk rouleaux.
2. Fase pengendapan lambat 30 menit, makin banyak eritrosit yang membentuk rouleaux.
3. Fase pengendapan cepat kedua 15 menit, fase pemadatan.

Nilai Normal : 

Laki - laki : 0 - 15 mm/jam
Perempuan : 0 - 20 mm/jam

Alasan kenapa angka normal wanita lebih besar daripada pria? Ya karena wanita memiliki sifat fisiologis yang berbeda dari pria, wanita mengalami inflamasi / menstruasi disetiap bulannya.

Cara Kerja : 

1. Ambil darah 2 ml, masukkan ke dalam tabung reaksi.
2. Tambahkan 500 mikron Na. Sitrat 3,8 %
3. Homogenkan.
4. Hisap dengan tabung westergren sampai batas nol (0).
5. Simpan dalam rak tabung westergren selama 1 jam.
6. Hitung kecepatan pengendapan eritrosit setelah 1 jam.


Selasa, 23 Maret 2021

MONERA

 CIRI - CIRI UMUM BAKTERI 

1. Uniseluler ( bersel tunggal ) , prokariotik ( tidak punya membran inti ).
2. Ukurannya sangat kecil, biasanya hanya berukuran 0,5 - 5 um.
3. Hidup secara soliter ( sendiri - sendiri ) atau berkoloni ( berkelompok )
4. Umumnya tidak berkloroplas, kecuali bakterioklorofil.
5. Berkembang biak secara vegetatif & generatif.
6. Hidupnya kosmopolit ( dapat hidup ) & ditemukan dimana saja.
7. Dinding sel mengandung peptidoglikan.

KLASIFIKASI BAKTERI

1). Domain Arkhaea ( Archaebacteria )
Dikenal dengan bakteri primitif, hidup dilingkungan ekstrim pada sejarah evolusi bumi sehingga banyak anggotanya yang sudah punah & menjadi fosil.

2). Domain Bacteria ( Eubacteria )
Dikenal dengan bakteri sejati.

PENGELOMPOKKAN BAKTERI

1. Berdasarkan ada tidaknya peptidoglikan

* ARCHAEBACTERIA 
Arkhio berasal dari bahasa Yunani yang artinya kuno.
Dibagi menjadi 3, yaitu : 
a). Bakteri Halofil
Hidup dilingkungan dengan kadar garam tinggi, optimum pada kadar garam 20 %.
b). Bakteri Metanogen
Menghasilkan metana, hidup di rawa sebagai pengurai.
c). Bakteri Termoasidofil 
Hidup dilingkungan ekstrim panas dan asam, optimum pada suhu 60 - 80° C dengan PH 2-4.
2. Berdasarkan cara memperoleh makanan
3. Berdasarkan kebutuhan oksigen
STRUKTUR TUBUH BAKTERI
Berikut fungsi masing - masing

 REPRODUKSI BAKTERI 

1. Pembelahan Biner
* 1 sel menjadi 2 sel anak yang sama persis.


Transudat dan Eksudat

1). TRANSUDAT

adalah penimbunan cairan dalam rongga Serosa ( dada ) sebagai akibat karena gangguan keseimbangan cairan dan bukan merupakan proses radang.


JENIS - JENIS TRANSUDAT

1. Hidro Thoraks
Hidro = air
Thoraks = paru
*Hidro Thoraks = kelebihan air di paru - paru.

2. Hidro Peritoneum
Hidro = air
Peritoneum = lapisan jantung
*Hidro Peritoneum = kelebihan air di lapisan jantung.

3. Hidro Perikardium 
Hidro = air
Perikardium = perut
*Hidro Perikardium = kelebihan air di perut.

4. Hidro Arrosis / Hidro Nefrosis
Pembengkakan ginjal, karena menampung banyak urine dan tidak bisa ke kandung kemih. Akibatnya nefron pada ginjal membengkak.

2). EKSUDAT

adalah cairan patologis & sel yang keluar dari kapiler & masuk ke dalam jaringan pada waktu radang.

Rabu, 10 Maret 2021

Hitung Jumlah Trombosit

 Metode : 

Breeker Cronckite

Tujuan : 

Untuk menghitung jumlah trombosit.

Prinsip : 

Darah ditambah larutan ammonium Oksalat 1% maka sel² selain trombosit akan lisis.

Landasan Teori : 

   Trombosit adalah fragmen / keping²an tidak berinti dari sitoplasma megakariosit yang berukuran 1 - 4 mikron & beredar dalam siklus darah selama 10 hari.

   Bahan pemeriksaan yang dianjurkan untuk pemeriksaan hitung trombosit adalah darah EDTA.

Alat dan Bahan : 

> Alat : 
• Cawan Petri
• Alat alat phlebotomy
• Hemocytometer
• Mikropipet
• Tip
> Bahan : 
• Darah + EDTA 10 ul
• Ammonium Oksalat 1% 1000 ul

Cara Kerja : 

1. Siapkan alat & bahan
2. Masukkan 1000 ul ammonium oksalat 1% ke dalam tabung reaksi, kemudian diambil 10 ul.
3. Masukkan darah 10 ul.
4. Homogenkan.
5. Teteskan pada bilik hitung.
6. Simpan dalam cawan petri dengan kapas yang telah lembab ± 15 menit.
7. Periksa dibawah mikroskop perbesaran 40X.

Nilai Normal : 

150.000 - 450.000 / mm³






Selasa, 09 Maret 2021

Resistensi Osmotik ( Osmotic Fragility Test )

Tujuan : 

• Untuk membantu dalam menentukan tipe² / jenis² anemia.
• Untuk mengetahui ketahanan eritrosit terhadap larutan hipotonis.

NB : 
  Larutan Hipotonis adalah tekanan luar sel lebih rendah daripada didalam sel, sehingga tekanan dalam sel keluar menuju sel luar yang lebih rendah tekanannya, kemudian sel akan lisis.

Prinsip : 

Sel eritrosit akan rusak jika dimasukkan ke dalam larutan hipotonis.

Landasan Teori : 

Hemolisa adalah peristiwa keluarnya hemoglobin dari dalam sel darah menuju cairan ke cairan disekelilingnya.

Alat dan Bahan :

> Alat : 
• Tabung reaksi 12 buah
• Rak tabung 
• Pipet tetes
• Alat² phlebotomy

> Bahan : 
• Darah + EDTA
• NaCL 0,5 %
• Aquadest

Cara Kerja : 

1. Siapkan alat & bahan
2. Tabung reaksi disusun beri nomor 1 - 12
3. Lakukan perlakuan
4. 

5. Homogenkan 
6. Inkubasi selama 2 jam
7. Tabung kaca pada permukaan hemolisis & pada hemolisa total.
Pembacaan : 
Warna & intensitas serta gumpalan pada dasar tabung diperhatikan.
> Permulaan Hemolisis
Ditandai dengan terdapatnya cairan berwarna merah dibagian atas pada tabung yang pertama kali.
> Hemolisa Total
Cairan seluruhnya berwarna merah & tidak ada gumpalan eritrosit didasar tabung.

Nilai Normal : 

• Resistensi Minimum : 0,42 %
• Resistensi Maksimum : 0,34%

Makroskopis Dan Mikroskopis Feses

PEMERIKSAAN MAKROSKOPIS DAN MIKROSKOPIS FESES

1. PEMERIKSAAN MAKROSKOPIS

  • Warna 
*Normal : kuning - cokelat muda
*Abnormal
> Melena ( hitam ) : karena perdarahan saluran cerna bagian atas.
> Merah : perdarahan segar.
> Acholis : pucat / dempul karena stercobilin negatif.

NB : Stercobilin adalah pemberi warna pada feses.

  •  Bau 
*Normal : khas seperti bau reagen indol, skatol & asam butirat.
*Abnormal
> Busuk : pembusukan protein
> Asam : fermentasi ( diare )
> Anyir : disentri basiler
> Tengik : lemak

  •  Konsistensi ( Tingkat Kepadatan Feses )

*Normal : lunak berbentuk
*Abnormal
> Keras : konstipasi
> Cair : bubur sampai seperti air cucian beras
> Gas = CO² : fermentasi karbohidrat

  •  Lendir

*Normal : negatif
*Abnormal
> Radang lendir banyak
> Keganasan lendir banyak & berbau busuk

  •  Darah

*Normal : negatif
*Abnormal
> Darah segar : hemorrhoid, disentri amoeba
> Darah lama : hitam yaitu melena

  •  Nanah 

*Normal : negatif
*Abnormal
> Abses pecah nanah positif
> Carcinoma : disertai bau busuk

  • Sisa Makanan 

> Sayuran & biji²an

2. PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS

  •  Alat dan Bahan : 

> Alat : 3 objek glass dan cover glass, larutan eosin, lugol, dan asam asetat glasial, lidi.

Dalam hal ini masing² memiliki fungsi sebagai berikut: 

1. Eosin digunakan untuk melihat eritrosit & leukosit.
2. Lugol digunakan untuk melihat sisa makanan.
3. Asam Asetat Glasial digunakan untuk melihat protein.
> Bahan : Feses segar.

  •  Cara Kerja : 
1. Siapkan alat dan bahan
2. Pada ke-3 objek glass tersebut di beri secuil feses.
3. Kemudian ditambahkan 1 tetes reagen secara berurut : eosin, lugol , & asam asetat.
4. Homogenkan sampai tercampur merata.
5. Periksa dibawah mikroskop perbesaran 10 & 40 X.

*Nah itu dia sekilas materi pemeriksaan tentang feses. Semoga bermanfaat ya:)


Sabtu, 06 Maret 2021

Uji Widal

1. Tujuan : 

• Mempelajari prosedur uji widal
• Mengetahui ada tidaknya antibodi ( kualitatif ) dari penderita tersangka tifus yang disebabkan oleh salmonella sp
• Menentukan titernya ( kuantitatif )

2. Pendahuluan : 

   Uji Widal atau yang dikenal oleh masyarakat awam dengan istilah tifus adalah penyakit infeksi yang masuk melalui saluran cerna kemudian menyebar ke seluruh tubuh melalui darah. 

   Terdapat ratusan jenis salmonella serovarian thypi dan parathypi. Tetapi hanya 4 jenis yang dapat menimbulkan tifus yaitu salmonella serovarian thypi, parathypi A, parathypi B, dan parathypi C. 

3. Penjelasan Macam Antigen : 

1). Antigen O 
Merupakan somatik yang terletak dilapisan luar tubuh kuman. Struktur kimianya terdiri dari lipopolisakarida.

2). Antigen H 
Terletak di flagella dan berstruktur kimia protein.

3). Antigen VI
Terletak dilapisan terluar S. Thypi yang melindungi kuman dari fagositosis dengan struktur kimia glikolipid.

4. Outer Membrane Protein ( OMP )
Merupakan bagian dinding sel yang terletak diluar membran sitoplasma. OMP terdiri dari 2 bagian yaitu protein porin & protein non porin. Porin adalah komponen utama OMP.


Pemeriksaan Batu Empedu

    Di Indonesia, penyakit batu empedu masih kurang mendapat perhatian dibandingkan penyakit saluran cerna lainnya seperti hepatitis virus k...